Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2011

Penyebab Ayan

Penyebab Ayan
Otak kita terdiri dari jutaan sel saraf (neuron), yang bertugas mengoordinasikan semua aktivitas tubuh kita termasuk perasaan, penglihatan, berpikir, menggerakkan [otot].
Pada penderita ayan, kadang-kadang sinyal-sinyal tersebut, tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai unsur-unsur, antara lain; trauma kepala (pernah mengalami cedera di daerah kepala), tumor otak, dan lain sebagainya.
Umumnya ayan mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam proses kelahiran, luka kepala, pitam otak (strok), tumor otak, alkohol. Kadang-kadang, ayan mungkin juga karena genetika, tapi ayan bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap belum diketahui.

Diagnosis
Hippocrates adalah orang pertama yang berhasil mengidentifikasi gejala ayan sebagai masalah pada otak, roh jahat, dan sebagainya. Seseorang dapat dinyatakan menderita ayan jika orang tersebut telah setidaknya mengalami kejang yang bukan disebabkan karena alkohol dan tekanan darah yang sangat rendah. Alat bantu yang digunakan biasanya adalah:
  • MRI (Magnetic resonance imaging) Menggunakan magnet yang sangat kuat untuk mendapatkan gambaran dalam tubuh/otak seseorang. Tidak menggunakan Sinar-X. MRI lebih peka daripada CT Scan.
  • EEG (electroencephalography) alat untuk memeriksa gelombang otak.

Orang-orang terkenal dengan ayan
Ayan tidak identik dengan orang yang mengalami keterbelakangan mental. Berikut ini adalah beberapa dari sekian banyak orang ternama yang menderita ayan.
Otak kita terdiri dari jutaan sel saraf (neuron), yang bertugas mengoordinasikan semua aktivitas tubuh kita termasuk perasaan, penglihatan, berpikir, menggerakkan [otot].
Pada penderita ayan, kadang-kadang sinyal-sinyal tersebut, tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai unsur-unsur, antara lain; trauma kepala (pernah mengalami cedera di daerah kepala), tumor otak, dan lain sebagainya.
Umumnya ayan mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam proses kelahiran, luka kepala, pitam otak (strok), tumor otak, alkohol. Kadang-kadang, ayan mungkin juga karena genetika, tapi ayan bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap belum diketahui.

Pengobatan

Berikut ini adalah nama-nama obat yang dipakai untuk menyembuhkan ayan. Semua obat harus dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter.
Carbamazepine, Carbatrol, Clobazam, Clonazepam, Depakene, Depakote, Depakote ER, Diastat, Dilantin, Felbatol, Frisium, Gabapentin, Gabitril, Keppra, Klonopin, Lamictal, Lyrica, Mysoline, Neurontin, Phenobarbital, Phenytek, Phenytoin, Sabril, Tegretol, Tegretol XR, Topamax, Trileptal, Valproic Acid, Zarontin, Zonegran, Zonisamide

Pengobatan

Berikut ini adalah nama-nama obat yang dipakai untuk menyembuhkan ayan. Semua obat harus dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter.
Carbamazepine, Carbatrol, Clobazam, Clonazepam, Depakene, Depakote, Depakote ER, Diastat, Dilantin, Felbatol, Frisium, Gabapentin, Gabitril, Keppra, Klonopin, Lamictal, Lyrica, Mysoline, Neurontin, Phenobarbital, Phenytek, Phenytoin, Sabril, Tegretol, Tegretol XR, Topamax, Trileptal, Valproic Acid, Zarontin, Zonegran, Zonisamide

VENTRICULAR SEPTAL DEFECT(VSD)


VENTRICULAR SEPTAL DEFECT(VSD)
1. Insidensi dan Etiologi
Kelainan ini merupakan kelainan terbanyak, yaitu sekitar 25% dari seluruh kelainan jantung. Dinding pemisah antara kedua ventrikel tidak tertutup sempurna. Kelainan ini umumnya congenital, tetapi dapat pula terjadi karena trauma. Kelainan VSD ini sering bersama-sama dengan kelainan lain misalnya trunkus arteriosus, Tetralogi Fallot.
2. Patofisiologi
Darah arterial mengalir dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan melalui defek pada septum intraventrikular. Perbedaan tekanan yang besar membuat darah mengalir dengan deras dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan à menimbulkan bising.
Darah dari ventrikel kanan didorong masuk ke a.pulmonalis. Makin besar defek, makin banyak darah masuk ke a.pulmonalis. Tekanan yang terus-menerus meninggi pada a.pulmonalis akan menaikan tekanan pada kapiler paru. Mula-mula naiknya tekanan kapiler ini masih reversibel (belum ada perubahan pada endotel dan tunika muskularis arteri-arteri kecil paru. Akan tetapi, lama-lama pembuluh darah paru menjadi sklerosis dan akan menyebabkan naiknya tahanan yang permanen. Bila tahanan pada a.pulmonalis sudah tinggi dan permanen, tekanan pada ventrikel kanan juga jadi tinggi dan permanen.
Bila ditinjau dari segi patofisiologi maupun klinis, ada 4 tipe VSD:
· VSD kecil dengan tahanan pada a.pulmonalis masih normal.
· VSD sedang dengan tahanan pada a.pulmonalis massih normal.
· VSD besar dan sudah disertai hipertensi pulmonal yang dinamis à hipertensi pulmonal terjadi karena bertambahnya volume darah pada a.pulmonalis tetapi belum ada kenaikan tahanan a.pulmonalis atau belum ada arteriosklerosis a.pulmonalis.
· VSD besar dengan hipertensi pulmonal yang permanen karena pada kelainan ini sudah disertai arteriosklerosis a.pulmonalis.

Rencana keperawatan


Rencana keperawatan adalah bagaimana perawat merencanakan suatu tindakan keperawatan agar dalam melakukan perawatan terhadap pasien efektif dan efisien
Rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosis keperawatan.
TUJUAN
Tujuan umum :
1. Sebagai alat komunikasi antara sesama anggota perawatan dan antar tim kesehatan lainnya
2. Untuk meningkatkan kesinambungan asuhan keperawatan terhadap klien
3. Mendokumentasikan proses dan kriteria hasil asuhan keperawatan yang akan dicapai.
Tujuan Administratif :

1. Mengidentifikasi fokus keperawatan kepada klien atau kelompok
2. Membedakan tanggung jawab
perawat dengan profesi kesehatan lainnya
3. Menyediakan suatu kriteria guna pengulangan dan evaluasi keperawatan
4. Menyediakan kriteria klasifikasi klien.
Tujuan Klinik :
1. Menyediakan suatu pedoman dalam penulisan
2. Mengomunikasikan
dengan staf perawat, apa yang diajarkan, apa yang diobservasi dan apa yang dilaksanakan
3. Menyediakan kriteria hasil (outcomes) sebagai pengulangan dan evaluasi keperawatan
4. Rencana tindakan yang spesifik secara langsung bagi individu, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya untuk melaksanakan tindakan.
MANFAAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1. Sebagai penghubung kebutuhan klien
2. Untuk menjelaskan intervensi keperawatan yang harus dilaksanakan
3. Untuk meningkatkan praktik keperawatan, sehingga mendapatkan pengertian yang lebih jelas tentang prinsip proses keperawatan
4. Menjadi dasar pendekatan yang sistematis terhadap asuhan keperawatan.
LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1. Menetapkan urutan prioritas diagnosis keperawatan
2. Menentukan tujuan asuhan keperawatan
3. Menentukan rencana intervensi keperawatan
4. Menuliskan rencana asuhan keperawatan

DOKUMENTASI DIAGNOSIS KEPERAWATAN


DOKUMENTASI DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1.       Gunakan format PES untuk semua masalah aktual dan PE untuk masalah resiko
2.      Catat diagnosis keperawtaan resiko ke dalam format diagnosis keperawatan
3.      Gunakan istilah diagnosis keperawatan yang ada dalam NANDA ( terbaru : 2007 – 2008 )
4.      Mulai pernyataan diagnosis keperawatan dengan mengidentifikasi informasi tentang data untuk diagnosis keperawatan
5.      Masukkan pernyataan diagnosis keperawatan ke dalam daftar masalah
6.      Hubungkan setiap diagnosis keperawatan ketika menemuan masalah perawatan
7.      Gunakan diagnosis keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, perencanaan, intervensi dan evaluasi.

  Metode dokumentasi diagnosa keperawatan
Dalam melakukan pencatatan diagnosa keperawatan digunakan pedoman dokmentasi yaitu :
a.    Gunakan format PES untuk semua masalah aktual dan PE untuk masalah resiko.
b.    Catat diagnosa keperawatan resiko dan resiko tinggi kedalam masalah atau format diagnosa keperawatan.
c.    Gunakan istilah diagnosa keperawatan yang dibuat dari daftas NANDA, atau lain.
d.    Mulai pernyataan diagnosa keperawatan yang mengidentifikasi informasi tentang data untuk diagnosa keperawatan.

Rabu, 14 September 2011

Pemeriksaan Fisik

PEMERIKSAAN FISIK
RAMBUT, KULIT DAN KUKU
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan dari suatu sistem atau suatu organ bagian tubuh. Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dimana seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan dicatat dalam reka medis perawatan pasien. Biasanya pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak.

Obesitas

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.
Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya.

Nyeri

Pengertian nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan

nilai normal lab

Determination
Normal Reference Value
Conventional units
SI units
Blood, Plasma or Serum
Ammonia (NH3) – diffusion
20-120 mcg/dl
12-70 mcmol/L
Ammonia Nitrogen
15-45 µg/dl
11-32 µmol/L
Amylase
35-118 IU/L
0.58-1.97 mckat/L
Anion gap (Na+-[Cl - + HCO3- ]) (P)
7-16 mEq/L
7-16 mmol/L
Antithrombin III (AT III)

Alkalosis Respiratorik

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
SMALL GROUP DISCUSSION

Kasus 2
Tn. T (50 tahun) mengalami luka bakar karena tersengat listrik. Permukaan kulit Tn. T yang tersengat listrik berwarna hitam, hangus, dan kasar. Beberapa permukaan lainnya tampak melepuh dan ketika disentuh, Tn. T tidak merasa nyeri. Tn. T mengatakan bahwa dia sangat cemas dengan kondisinya saat ini. Tekanan darah (TD) Tn. T saat ini 90/50 mm Hg; nadi (N) = 60 kali/ menit; Respiratori rate (RR) = 30 kali/menit; suhu tubuh (S) = 38o C; Hemoglobin Tn. T = 10 g/dL; nilai K+  = 8,0 mEq/L; ph serum = 7,50: pCO2 = 27 mm Hg; HCO3 = 20 mm Hg. Dokter menginstruksikan perawat untuk memberikan cairan kepada Tn. T sebanyak 1000 cc selama satu jam pertama.
1.      Jelasakan kondisi apa saja yang tengah diamai Tn. T!
2.      Berapa tetes air per menit kebutuhan cairan Tn. T saat ini jika cairan diberikan menggunakan makro drip ?

JAWAB

Komponen
Nilai
Nilai Normal
TD
90 / 50 mmHg
120/80 mm Hg
Nadi
60 x / menit
30 x / menit
RR
30 x / menit
12-20 x /menit
Suhu
38o C
36-37o C
Hb
10 gr / dL
10 – 14 gr / dL
K+
8,0 mEg
3,3 – 5,0 mEg/L
Ph Serum
7,50
7,35 – 7,45
PCO2
27 mmHg
35 mmHg
PCO3
20 mmHg
22 mmHg
Cairan Infus
1000 cc


1.       Pada kasus diatas Tn. T mengalami :
a.       Alkalosis Respiratorik, karena PH diatas normal ( 7,35 – 7,45) yaitu 7,50 dan PCO2 dibawah normal yaitu 27 mmHg sedangkan normalnya 35 mmHg.
b.      Kekurangan cairan atau Dehidrasi sehingga membutuhkan cairan, yaitu :

Kebutuhan Cairan
BB    : 2n + 8
         : (2 x 50) + 8
         : 108 kg

Kebutuhan cairan jika BB 108 kg adalah :
 1500cc + (n x 25) cc /kg/BB/hari
 1500cc + (88 x 25) cc
:2200 cc / hari

Kebutuhan Cairan Saat Ini
 12% x (38% -37%)
: 12%
2200 CC x   = 264 cc

ù Kebutuhan Cairan Saat Ini          : 2200 + 264 cc
                                                         : 2464 cc
c.       Hiperkalium
Dari kasus Tn. T mempunyai K+ 8,0 mEg, sedangkan normalnya adalah 3,3 – 5,0 mEg/L. Jadi Tn. T mengalami Hiperkalium.

2.      Kebutuhan cairan Tn. T tetes per menit
a.      x f.tetes =   x 20 = 3,33 tetes / menit
b.      x 15 = 250 tetes / menit






ILMU DASAR KEPERAWATAN 1
SMALL GROUP DISCUSSION
KASUS 2

KELOMPOK 2
Febri Azhar
Insan Budiman
Langit Poca
Miftahul Janah
Selfi Agustina
Suiman
Zara Eka Putri

S-1 KEPERAWATAN
STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
2011

='ma' �%- o ��+ xU+ margin-bottom:.0001pt;line-height: normal'>Saya Indah
Saya hanya insan biasa yang tak luput dari dosa..
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png


KEPERAWATAN MATERNITAS

Rabu, 26 Mei 2010
KONSEP KEPERAWATAN MATERNITAS
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Keperawatan maternitas merupakan pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan kepada wanita usia subur yang berkaitan dengan masa diluar kehamilan, masa kehamilan, masa melahirkan, masa nifas sampai enam minggu, dan bayi yang dilahirkan sampai berusia 40 hari beserta keluarganya. Pelayanan berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. (CHS/KIKI, 1993)
Asuhan keperawatan yang diberikan bersifat holistik dengan selalu menghargai klien dan keluarganya serta menyadari bahwa klien dan keluarganya berhak menentukan perawatan yang sesuai untuk dirinya. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan advokasi dan mendidik WUS dan melakukan tindakan keperawatan dalam mengatasi masalah kehamilanpersalinan dan nifas, membantu dan mendeteksi penyimpangan-penyimpangan secara dini dari keadaan normal selama kehamilan sampai persalinan dan masa diantara dua kehamilan, memberikan konsultasi tentang perawatan kehamilan, pengaturan kehamilan, membantu dalam proses persalinan dan menolong persalinan normal, merawat wanita masa nifas dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari menuju kemandirian, merujuk kepada tim kesehatan lain untuk kondisi-kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Keperawatan Maternitas
A. Pengertian
Keperawatan Maternitas merupakan persiapan persalinan serta kwalitas pelayanan kesehatan yang dilakukan dan difokuskan kepada kebutuhan bio-fisik dan psikososial dari klien, keluarga , dan bayi baru lahir.
(May & Mahlmeister, 1990)

Keperawatan Maternitas merupakan sub system dari pelayanan kesehatan dimana perawat berkolaborasi dengan keluarga dan lainnya untuk membantu beradaptasi pada masa prenatal, intranatal, postnatal, dan masa interpartal.
(Auvenshine & Enriquez, 1990)

Keperawatan Maternitas merupakan pelayanan yang sangat luas, dimulai dari konsepsi sampai dengan enam minggu setelah melahirkan.
(Shane,et.al.,1990)

Keperawatan Maternitas merupakan pelayanan professional berkwalitas yang difokuskan pada kebutuhan adaptasi fisik dan psikososial ibu selama proses konsepsi / kehamilan, melahirkan, nifas, keluarga, dan bayi baru lahir dengan menekankan pada pendekatan keluarga sebagai sentra pelayanan.
(Reede, 1997)

Keperawatan Maternitas merupakan pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan kepada wanita usia subur (WUS) yang berkaitan dengan masa diluar kehamilan, masa kehamilan, masa melahirkan, masa nifas sampai enam minggu, dan bayi yang dilahirkan sampai berusia 40 hari beserta keluarganya. Pelayanan berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
(CHS/KIKI, 1993)

B. Peran Perawat
Peran perawat dalam keperawatan maternitas menurut Reeder (1997):
1. Pelaksana
2. Pendidik
3. Konselor
4. Role model bagi para ibu
5. Role model bagi teman sejawat
6. Perumus masalah
7. Ahli keperawatan
Peran perawat dalam keperawatan maternitas menurut Old(1988), Bobak & Jensen (1993):
1. Member pelayanan
2. Advocate
3. Pendidik
4. Change Agent
5. Political Activist
6. Peneliti




C. Pendekatan Pelayanan Keperawatan
Pendekatan pelayanan dalam keperawatan maternitas yaitu:
1. Holistik
2. Penghargaan terhadap pasien
3. Peningkatan kemampuan pasien Kemandirian
4. Pemanfaatan & peningkatan sumber daya yang diperlukan
5. Proses keperawatan
6. Berpusat pada keluarga= FCMC (Family Centered Maternity Care)
7. Caring: Siap dengan klien; Menghargai system nilai; Memenuhi kebutuhan dasar klien; Penyuluhan/konseling kesehatan.


D. Model Konsep
*FCMC (Family Centered Maternity Care):
1. Melaksanakan kelas untuk pendidikan prenatal orang tua.
2. Mengikut serta keluarga dalam perawatan kehamilan, persalinan, dan nifas.
3. Mengikut sertakan keluarga dalam operasi.
4. Mengatur kamar bersalin sepeti suasana rumah.
5. Menetapkan peraturan yang flexibel.
6. Menjalankan system kunjungan tidak ketat.
7. Mengadakan kontrak dini bayi dan orang tua.
8. Menjalankan rooming-in (Ruang rawat gabung untuk ibu hamil).
9. Mengikut sertakan anak-anak dalam proses perawatan.
10.Melibatkan keluarga dalam perawatan NICU.
11. Pemulangan secepat mungkin dengan diikuti Follow-up.


*Tradisional Care:
1. Memisahkan ibu dari keluarga selama proses persalinan.
2. Memindahkan klien: dari ruang penerimaan ke ruang persalinan.
3. Melarang ibu beraktifitas selama proses persalinan.
4. Melakukan tindakan rutin: episitomi, obat-obatan.
5. Tidak ada keluarga ikut dalam proses persalinan & operasi.
6. Kontak orang tua & anak kurang.
7. Pemberian susu bayi dibatasi.
8. Waktu berkunjung dibatasi.
9. Rooming-in dibatasi.
10. Tidak ada Follow-up ke rumah.
11. Kontrol postpartum rutin pada hari minggu ke enam.

*Model Konsep “Self Care Orem” :
• Penekanan pada aktifitas mandiri kemudian mencapai kesejahteraan ibu & bayi.
• Pada Maternal: mampu mandiri dalam perawatan diri.
• Melihat dari kemampuan.
• Berdasarkan kondisi.

*Model Konsep “Adaptasi” :
• Mempunyai kemampuan adaptasi dalam rangka mencapai kebutuhan.
• Manusia selalu konstan berinteraksi dengan lingkungan (selalu berubah).
• Maternal sepanjang proses konsepsi sampai postpartum terjadi perubahan fisik, psikologis, dan social.
*Model Konsep “I King” :
• Personal.
• Interpersonal.
• Social (Dinamik, interaksi mudah diberikan informasi & memberikan informasi).


2.2 PERSPEKTIF KEPERAWATAN MATERNITAS
A. Sejarah
Pendamping Persalinan : Perempuan, berkeluarga, mempunyai anak banyak













B. Tujuan
Tujuan keperawatan maternitas adalah:
1. Membantu wanita usia subur & keluarga dalam masalah produksi & menghadapi kehamilan.
2. Membantu PUS untuk memahami kehamilan, persalinan, & nifas adalah normal.
3. Member dukungan agar ibu memandang kehamilan, persalinan, & nifas adalah pengalaman positif & menyenamgkan.
4. Membantu mendeteksi penyimpangan secara dini.
5. Member informasi tentang kebutuhan calon orang tua.
6. Memahami keadaan social & ekonomi ibu.

C. Karakteristik
Karakteristik keperawatan maternitas yaitu:
1. Fokus kebutuhan dasar = Sejahtera
2. Pendekatan keluarga = FCMC
3. Tindakan khusus dengan peran perawat.
4. Terjadi interaksi = Strategi Pelayanan
5. Kerja dalam Tim = Semua yang terkait.

D. Paradigma Keperawatan
Paradigma keperawatan merupakan suatu cara pandang dari profesi keperawatan untuk melihat suatu kondisi dan fenomena yang terkait secara langsung dengan aktifitas yang terjadi dalam profesi tersebut.
Paradigma keperawatan pada keperawatan maternitas meliputi manusia, lingkungan, sehat dan keperawatan.

a. Manusia
Manusia terdiri dari:
• WUS
• PUS
• Perempuan dan Janin
• Perempuan masa persalinan
• Perempuan nifas hingga 6 minggu
• Bayi sampai usia 40 hari
• Keluarga
• Masyarakat Unik, Utuh, Tumbang.

b. Lingkungan
Lingkungan terdiri dari:
• Anggota keluarga
• Masyarakat :
Sikap, nilai, & perilaku


Lingkungan Budaya & Sosial


Psikologi (Termasuk Fisik)


Sikap, nilai dan prerilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya dan social disamping pengaruh fisik Proses kehamilan danpersalinan serta nifas akan melibatkan semua anggota keluarga dan masyarakat. Proses kelahiran merupakan permulaan suatu bentuk hubungan baru dalam keluarga yang sangat penting, sehingga pelayanan maternitas akan mendorong interaksi yang positif dari orang tua, bayi dan angota keluarga lainnya dengan menggunakan sumber-sumber dalam keluarga.
c. Sehat
Sehat adalah suatu keadaan terpenuhinya kebutuhan dasar, bersifat dinamis, tergantung dari perubahan-perubahan fisik & psikososial “Adaptasi”.
Setiap individu memiliki hak untuk lahir sehat sehingga WUS dan ibu memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Ibu dapat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi, baik fisik maupun psikososial.
Kesejahteraan Reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, & social secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit / kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi serta fungsi & prosesnya.
(Konferensi sedunia IV tentang Wanita, Beijing 1995)

d. Keperawatan Ibu
Keperawatan ibu merupakan pelayanan keperawatan professional berkwalitas yang difokuskan pada kebutuhan adaptasi fisik & psikososial ibu selama proses konsepsi/kehamilan, melahirkan, nifas, keluarga, & bayi baru lahir dengan menekankan pada pendekatan keluarga sebagai sentra pelayanan.
Keperawatan ibu memberikan asuhan keperawatan holistik dengan selalu menghargai klien dan keluarganya serta menyadari bahwa klien dan keluarganya berhak menentukan perawatan yang sesuai untuk dirinya.
(http://keperawatan-keperawatan.blogspot.com/2008/02/konsep-dasar-keperawatan-maternitas.html)





E. Tatanan Pelayanan
Tatanan pelayanan keperawatan maternitas yaitu:
1. Rumah Sakit
2. Puskesmas
3. Rumah bersalin
4. Komunitas
5. Polindes


F. Standar Praktek
Menurut OGNN :
• Area Klinik =
1. Keperawatan Antepartum
2. Keperawatan Intrapartum
3. Keperawatan Postpartum

• Praktek Keperawatan =
1. Perawatan Obstetrik
2. Perawatan Ginekology
3. Perawatan Neonatal
Praktek keperawatan yang komprehensif disediakan untuk individu, keluarga, & masyarakat dengan kerangka proses keperawatan.

• Pendidikan Kesehatan =
Penkes untuk individu, keluarga, & masyarakat merupakan bagian integral dari praktek keperawatan OGN.


Menurut ANA, 1987:
1. Perawta membantu anak & orang tuanya untuk meningkatkan & mempertahankan kesehatan yang optimal.
2. Perawat membantu keluarga untuk mencapai & mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan personal dari anggota keluarga & fungsi keluarga yang optimal.
3. Perawat memberikan pelayanan kepada klien yang membutuhkan, dan keluarga yang mempunyai resiko untuk mencegah masalah aktual & potensial dalam kesehatan.
4. Perawat meningkatkan lingkungan yang tidak membahayakan tumbuh kembang & sistem reproduksi.
5. Perawat mendeteksi perubahan status kesehatan & deviasi dari perkembangan yang optimum.
6. Perawat memberikan intervensi yang tepat & pengobatan untuk meningkatkan kesehatan & memulihkan penyakit.
7. Perawat membantu klien & keluarganya untuk mengerti & memakai koping yang baik dengan trauma/benturan dalam perkembangan selama sakit, masa tumbang, & anak-anak.
8. Perawat mempunyai strategi yang aktif & positif untuk menggunakan sumber-sumber dalam member pelayanan.
9. Perawat meningkatkan praktek keperawatan ibu & anak melalui penilaian praktek, pendidikan, & penelitian.



G. Legal Etik dalam Keperawatan Maternitas


H. Konsep Keluarga Menurut Duvall & Mercer

BAB III
PENUTUP

Keperawatan maternitas merupakan salah satu bentuk pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan kepada wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan system reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari, beserta keluarganya, berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam beradaptasi secara fisik dan psikososial untuk mencapai kesejahteraan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

Setiap individu mempunyai hak untuk lahir sehat maka setiap individu berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Keperawatan ibu menyakini bahwa peristiwa kelahiran merupakan proses fisik dan psikis yang normal serta membutuhkan adaptasi fisik dan psikososial dari individu dan keluarga. Keluarga perlu didukung untuk memandang kehamilan sebagai pengalaman yang positif dan menyenangkan. Upaya mempertahankan kesehatan ibu dan bayinya sangat membutuhkan partisipasi aktif dari keluarganya.

Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga, dapat mengakibatkan krisis situasi selama anggota keluarga tidak merupakan satu keluarga yang utuh. Proses kelahiran merupakan permulaan bentuk hubungan baru dalam keluarga yang sangat penting. Pelayanan keperawatan ibu akan mendorong interaksi positif dari orang tua, bayi dan angggota keluarga lainnya dengan menggunakan sumber-sumber dalam keluarga. Sikap, nilai dan perilaku setiap individu dipengaruhi oleh budaya dan social ekonomi dari calon ibu sehingga ibu serta individu yang dilahirkan akan dipengaruhi oleh budaya yang diwarisi.


Dalam memberikan asuhan keperawatan diperlukan kebijakan umum kesehatan (terintegrasi) yang mengatur praktek, SOP/standar operasi prosedur, etik dan profesionalisme, keamanan, kerahasiaan pasien dan jaminan informasi yang diberikan. Perawat memiliki komitmen menyeluruh tentang perlunya mempertahankan privasi dan kerahasiaan pasien sesuai kode etik keperawatan.

Asuhan keperawatan yang diberikan bersifat holistik dengan selalu menghargai klien dan keluarganya serta menyadari bahwa klien dan keluarganya berhak menentukan perawatan yang sesuai untuk dirinya. Perawat mengadakan interaksi dengan klien untuk mengkaji masalah kesehatan dan sumber-sumber yang ada pada klien, keluarga dan masyarakat; merencanakan dan melaksanakan tindakan untuk mengatasi masalah-maslah klien, keluarga dan masyarakat; serta memberikan dukungan pada potensi yang dimiliki klien dengan tindakan keperawatan yang tepat. Keberhasilan penerapan asuhan keperawatan memerlukan kerjasama tim yang terdiri dari pasien, keluarga, petugas kesehatan dan masyarakat.




http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png


Kesehatan

KESEHATAN
                                                   
                          
KELOMPOK  3:
1.   Anisya Werdiyarti
2.   Dedi Hartono
3.   Dwi Kristiani
4.   Laila Nurul F
5.   Marwoto B
6.   Rahma Yuliana S
7.   Windi Atmoko

STRATA 1 KEPERAWATAN
AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN 2010
PENDAHULUAN

Perkembangan keperawatan di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perkembangan keperawatan secara global. Dengan jelas dapat diamati bahwa secara berkelanjutan keperawatan di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat, baik dibidang pendidikan maupun di tatanan praktek keperawatan. Pada masa lalu keperawatan dilakukan lebih berdasarkan intuisi dan tradisi sehingga keperawatan dianggap hanya sebagai kiat tanpa komponen ilmiah dan landasan keilmuan yang kokoh.  
Masalah yang muncul adalah apabila peneliti kurang tepat dalam menyusun kerangka kerja teori/konsep sesuai dengan variabel yang akan diteliti, sehingga hasil penelitian akan kurang bermakna dalam perkembangan tubuh ilmu pengetahuan keperawatan (Body of Knowledge) dan akan mempengaruhi penerapannya dalam praktek keperawatan.

   








Kesehatan
Kesehatan menjelaskan tentang sifat dari subjek, misalnya kesehatan manusia, kesehatan binatang, masyarakat, kesehatan individu, dan  sebagainya.
Kesehatan bersifat holistik atau menyeluruh yang mengandung keempat aspek :
A.   Kesehatan fisik
Terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara klinis tidak adanya penyakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak ada gangguan fungsi tubuh.
B.   Kesehatan mental (jiwa)
Mencakup 3 komponen yakni :
1.     Pikiran
Pikiran yang sehat tercermin dari cara berfikir seseorang atau jalan pikiran.
Jalan pikiran sehat apabila seseorang mampu berfikir logis (masuk akal).
2.     Emosional
Emosional yang sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, khawatir, dan sebagainya.
3.     Spiritual
Spiritual yang sehat tercermin dari cara seseorang mengekspresikan rasa syukur, pujian atau penyembahan keagungan, dan sebagainya terhadap sesuatu di balik alam ini yakni sang Pencipta Alam, dan seisinya. Dengan perkataan lain, spritual yang sehat adalah apabila orang melakukan ibadah dan aturan agama yang dianutnya.
C.   Kesehatan sosial
Terwujud apabila seseorang mampu berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain secara baik atau mampu berinterkasi dengan orang atau kelompok-kelompok lain, tanpa membedakan ras, suku, agama, status sosial, ekonomi, politik dan sebagainya, saling menghargai dan toleransi.
D.   Kesehatan dari aspek ekonomi
Terlihat dari seseorang itu produktif dalam arti mempunyai kegiatan yg menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong secara finansial terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya.

Upaya kesehatan
            Adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yg dilakukan pemerintah atau masyarakat. Pemeliharaan kesehatan mencakup 2 ospek yakni : kuratif
(pengobatan penyakit), rehabilatif (pemulihan kesehatan setelah sembuh dari sakit atau cacat). Sedangkan peningkatan kesehatan mncakup 2 aspek yakni preventif (peencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan) itu sendiri. Upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatn dibedakan menjadi 3.
1.      Sarana pelayanan kesehatan primer (primary care) adalah sarana kesehatan bagi kasus atau penyakit ringan. Misalnya puskesmas ,poliklinik, dokter praktek swasta,dan sebagainya.
2.      Sarana pelayanan kesehatan tingkat 2 (secondary care) adalah sarana atau pelayanan kesehatan rujukan bagi kasus atau penyakit dari pelayanan kesehatan primer misalnya puskesmas dengan rawat inap, rumah sakit kabupaten ,rumah sakit tipe D dan C, rumah sakit bersalin.
3.      Sarana pelayanan kesehatan tingkat 3 (tertiary care) adalah sarana pelayanan kesehatan rujukan bagi kasus yang tidak dapat ditangani oleh sarana pelayanan kesehatan primrer, misalnya rumah sakit propinsi, rumah sakit tipe B dan A.
Program pelayanan posyandu
1.      Kesehatan ibu dan anak
2.      KB
3.      Gizi
4.      Penanggulangan diare
5.      Imunisasi

Sehat-Sakit
            Konsep sehat-sakit adalah konsep yang kompleks dan multiinterpretasi. Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi sehat maupun sakit. Setiap individu, keluarga, masyarakat, maupun profesi kesehatan mengartikan sehat atau sakit secara berbeda, tergantung pada paradigmanya.



Definisi sehat
            Berabad-abad lalu sehat diartikan sebagai kondisi yang normal dan alami. Sehat bersifat dinamis yang statusnya terus menerus berubah. Kesehatan memengaruhi tingkat fungsi seseorang baik dari segi fisiologi, psikologis dan dimensi sosiokultural. Konsep umum tentang keadaan normal atau sehat akan menggunakan nilai rata-rata parameter tersebut sebagai acuannya. Nilai rata-rata tersebut dikenal dengan istilah nilai normal. Contoh Kadarnatrium normal pada orang dewasa adalah 136-145mmol/l.

Definisi sehat yang dijadikan acuan :
1.      Menurut WHO (1947) sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna baik fisik,  mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan.
2.      Menurut Parson sehat adalah kemampuan optimal individu untuk menjelaskan peran dan tugasnya secara efektif.
3.      Menurut undang-undang kesehatan RI no.23 tahun 1992 sehat adalah keadaan sejahtera tubuh ,jiwa, sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Definisi Sakit
            Sakit adalah keadaan tidak normal/sehat. Secara sederhana sakit dapat pula disebut penyakit yang merupakan suatu bentuk kehidupan atau keadaan diluar batas normal. Keadaan sakit atau penyakit sendiri merupakan hal yang sangat sulit untuk didefinisikan secara pasti. Beberapa definisi mengenai sakit atau penyakit yang dapat dijadikan acuan :
1.      Menurut Parson, sakit adalah ketidakseimbangan fungsi normal tubuh manusia,termasuk sejumlah sistem biologis dan kondisi penyesuaian.
2.      Menurut Bauman (1965) ada 3 kriteria keadaan sakit yaitu adanya gejala presepsi tentang keadaan sakit yang dirasakan dan kemampuan beraktifitas sehari-hari yang menurun.
3.      Menurut batasan medis, batasan medis mengemukakan dua bukti adanya sakit yaitu tanda dan gejala.
4.      Menurut Perkins. Sakit adalah sesuatu keadaan yang menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga menimbulkan gangguan pada aktifitas sehari-hari, baik aktifitas jasmani maupun sosial.
Penyakit berbeda dengan rasa sakit.Penyakit sifatnya obyetif karena masing-masing memiliki parameter tertentu, sedangkan rasa sakit sifatnya subjektif karena meupakan keluhan yang dirasakan seseorang.Perbedaan ini mempunyai implikasi yang berbeda. Seseorang yang menderita penyakit belum tentu merasakan sakit. Sebaliknya seseorang yang mengeluh sakit belum tentu merasakan sakit.
                       
Rentang Sehat-Sakit
Rentang sehat-sakit adalah suatu skala ukur hipotesis untuk mengukur keadaan sehat/kesehatan seseorang. Kedudukan seseorang pada skala tersebut bersifat dinamis dan individual karena di pengaruhi oleh faktor pribadi dan lingkungan. Pada skala ini, sewaktu-waktu seseorang bisa berada dalam keadaan sehat, namun di lain waktu bisa bergeser ke keadaan sakit.
Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relatif dan mempunyai tingkatan sehingga akan lebih akurat jika ditentukan seseuai titik-titik tertentu pada skala Rentang Sehat-Sakit.

Faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan
Menurut Hendrik Bloom ada 4 faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang yaitu herediter (keturunan), layanan kesehatan,lingkungan dan perilaku.
Dari keempat faktor tersebut, yang mempunyai andil besar dalam derajat kesehatan adalah faktor lingkungan(45%) dan faktor perilaku (30%). Kedua faktor tersebut sangat berkaitan erat. Lingkungan bisa sehat jika perilaku masyarakatnya sehat. Kerusakan lingkungan salah satunya dapat terjadi akibat faktor perilaku manusia. Berbagai penyakit yang saat ini menimpa bangsa indonesia, seperti demam berdarah, polio, dan flu burung juga terjadi akibat faktor lingkungan dan perilaku manusia.

1.      Keturunan
Secara sederhana, penyakit manusia dapat dibagi kedalam beberappa katagori, salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor gen. Penyakit ini disebut juga sebagai penyakit herediter atau keturunan. Contoh penyakit ini antara lain diabetes militus, albino, dan penyakit wilson.
2.      Layanan kesehatan
Layanan kesehatan dapata memepengaruhi status kesehatan individu (khususnya) dan masyarakat (umumnya). Beberapa aspek layanan kesehatan yang dapat mempengaruhi status kesehatan adalah sebagai berikut.
a.       Tempat layanan kesehatan
Letak geografis tempat layanan kesehatan dapat mempengaruhi keterjangkauan masyarakat terhadap layanan kesehatan dan keterjangkauan petugas kesehatan dalam memberikan layanan kepada masyarakat, terutama petugas puskesmas.
b.      Kualitas petugas kesehatan
Klien merupakan individu yang berada dalam posisi ketergantungan karena sangat membutuhkan pertolongan dari petugas kesehatan bagi kesembuhan dirinya. Dalam kondisi sakit ini, klien ”pasrah” terhadap apapun tindakan yang akan dilakukan oleh petugas kesehatan.
c.       Biaya kesehatan
Tingginya biaya pengobatan menyebabkan tidak semua orang mampu memanfaatkan layanan kesehatan. Keluarga yang tergolong miskin mutlak tentunya tidak mungkin mampu menjangkau layanan tersebut. Oleh sebab itu, perlu suatu program khusus untuk membantu masyarakat miskin mendapatkan layanan kesehatan. Beberapa diantara program tersebut adalah jaring pengaman sosial bidang kesehatan (JPSBK) dan asuransi kesehatan keluarga miskin (ASKESKIN).  Program ini sering disalah gunakan oleh pihak tertentu,akibatnya program yang ditujukan unttuk rakyat miskin justru banyak dimanfaatkan oleh orang kaya.
d.      Sistem layanan kesehatan
Sistem layanan kesehatan juga sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan individu dan masyarakat. Dalam sistem ini kita tidak lagi menekankan upaya kuratif melainkan upaya promotif dan preventif.
3.      Lingkungan
Lingkungan memberi pengaruh besar terhadap status kesehatan individu.
4.      Perilaku
Perilaku merupakan faktor berikutnya yang memengaruhi status kesehatan. Sehat atau sakit nya individu, keluarga, atau masyarakat dipengaruhi oleh perilakunya. Jika perilaku individu,keluarga dan masyarakat sehat, dapaty dipastikan akan sehat pula hasilnya begitu juga sebaliknya.

Perkembangan penyakit
Ada beberapa faktor yang berperan dalam perkembangan penyakit terdiri atas etiologi,patogenesis dan manifestasi klinis.


1.      Etiologi
Diartikan sebagai penyebab sesuatu yang dapat menyebabkan penyakit. Dikelompokan menjadi 2 golongan
a.       Golongan biologis
Penyebabnya adalah mikroorganisme.
b.      Golongan non biologis
Terbagi atas beberapa jenis,yaitu kimia, fisik, dan nutrie.
2.      Patogenesis
Adalah asal mula dan perkembangan patologis atau penyakit. Patogenesis ini menyakup etiologi, proses masuk nya penyakit kedalam tubuh, perkembangan penyakit, hingga manifestasi klinis yang ditunjukan. Proses peralanan penyakit dibagi kedalam 5 fase
a.       Fase prapatogenesis
Pada fase ini sebenarnya telah terjadi interaksi antara pejamu (manusia) dengan etiologi.
b.      Fase inkubasi
Jika etiologi telah masuk kedalam tubuh manusia,tetapi belum terlihat adanya gejala keadaan ini disebut dengan fase inkubasi.
c.       Fase penyakit dini
Fase ini dimulai ejak munculnya gejala penyakit. Gejala yang muncul masih relatif ringan sehingga manusia sering kali tidak menghiraukan. Daya tahan tubuh masih ada,namun cenderung lemah.

d.      Fase penyakit lanjut
Fase ini merupakan kelanjutan dari fase penyakit dini gterjadi akibat melemahnya kondisi tubuh seseorang akibat bertambah parah nya penyakit.
e.       Fase akhir penyakit
3.      klasifikasi akhir perjalanan penyakit yakni sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, sembuh sebagai pembawa (carrier) dan meninggal dunia.
4.      Manifestasi klinis
Pada awal perkembangan penyakit sering kali kita tidak menemukan adanya keluhan pada klien. Akan tetapi jika pemeriksaan laboratium dilakukan, kita akan dapat mendeteksi secara dini berbagai perubahan biologis yang terjadi akibat pengaruh etiologi. Perlu kita ketahui penyakit merupakan keadaan yang dinamis, bukan statis dengan demikian manifestasi klinis suatu penyakit dapat berubah setiap saat jika mekanisme pertahanan tubuh seseorang bergeser kearah yang lebih baik atau kuat








PENUTUP

                     Dari ulasan tersebut tentang permasalahan kesehatan
 setidaknya kita dapat mengerti tentang seberapa besar sebenarnya arti sebuah kesehatan . Oleh karena itu kami selaku penyusun dari materi ulasan tentang masalah kesehatan ini sangat mengharapkan agar para pembaca dapat mencerna dengan baik semua isi ulasan kami dan dapat dimengerti dalam keseharian kesehatan anda guna dapat mencapai kesehatan yang selama ini anda inginkan.
         Kira nya cukup sekian akhir dari pembahasan kami , apabila terdapat kesalahan penulisan , gelar ataupun kata-kata yang kurang berkenan dihati para pembaca , kami selaku penyusun ulasan ini memohon maaf atas kesalahan yang telah tidak di sengaja. Terima kasih atas waktu anda telah menuangkan waktunya untuk membaca dan menyimak ulasan kami.
.








DAFTAR PUSTAKA

Notoatmojo Soekidjo.(2005).Promosi Kesehatan dan Aplikasi.Jakarta:PT Rineka Cipta.


Asmadi.(2008) Konsep Dasar Kesehatan.Jakarta:EGC